Di tengah arus kehidupan yang semakin melelahkan ini, terkadang kita lupa bahwa ada satu hal penting dalam hidup yang perlu kita jaga setiap harinya, yaitu kesehatan mental.
Banyak dari kita bangun pagi dengan segala tanggung jawab, bekerja tanpa jeda, menahan lelah, dan berpura-pura kuat, seolah semuanya baik-baik saja. Padahal, jauh di dalam diri, ada pikiran yang kusut, perasaan yang menumpuk, dan emosi yang tidak sempat diberi ruang.
Membicarakan kesehatan mental bukan lagi soal kelemahan, melainkan bentuk kejujuran kita pada diri sendiri bahwa hidup memang tidak selalu mudah, dan tidak apa-apa untuk merasa lelah.
Pada kesempatan kali ini kita akan membahas cara menjaga kesehatan mental di tengah kehidupan yang melelahkan, hal ini saya bagikan berdasarkan pengalaman pribadi saya. Sesekali kita pasti bertanya gimana sih caranya menjaga kesehatan mental?, sedangkan perjalanan hidup kian melelahkan! yuk simak pembahasan ini kali saja kemu akan menemukan jawabannya.
1. Mengakui Lelah sebagai Langkah Awal Menjaga Kesehatan Mental
Sebelum berbicara lebih jauh tentang cara menjaga kesehatan mental, kita perlu berhenti sejenak dan jujur pada diri sendiri. Banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa mengeluh itu tanda menyerah, bahwa merasa lelah berarti tidak bersyukur. Enggak, nggak begitu kawan!
Akibatnya apa, kita memaksa diri terus berjalan meski batin sudah terseok. Padahal, mengakui lelah bukanlah kegagalan, bukan!, melainkan langkah awal untuk merawat diri kita secara utuh.
Dalam pengalaman saya sendiri, menjaga kesehatan mental itu bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana, yakni biasakan untuk mendengarkan diri sendiri.
Ketika tubuh kita terasa berat, pikiran sulit fokus, atau emosi mudah meledak, itu bukan tanpa alasan. Itu adalah sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu untuk kita perhatikan. Kita terlalu sering mengabaikan tanda-tanda seperti ini karena sibuk mengejar target hidup yang ditentukan oleh orang lain, bukan oleh kebutuhan batin kita sendiri.
Kesehatan mental juga sangat berkaitan dengan bagaimana kita memperlakukan perasaan. Ada hari-hari ketika kita merasa kosong tanpa sebab yang jelas, ada juga saat di mana kita merasa gagal meski sudah berusaha keras. Semua perasaan itu valid.
Menjaga kesehatan mental itu bukan berarti selalu bahagia, tetapi memberi ruang bagi semua emosi untuk hadir tanpa dihakimi. Ketika kita belajar menerima perasaan apa adanya, beban di kepala perlahan menjadi lebih ringan, lebih rileks dan lebih tenang.
Di tengah kehidupan yang sangat melelahkan ini, kita juga perlu belajar untuk berkata ‘Tidak’. Tidak semua undangan harus dipenuhi, tidak semua tuntutan harus dituruti. Mengatakan tidak bukan berarti egois kawan!, melainkan bentuk perlindungan terhadap kesehatan mental kita. Dengan mengenali batas diri, sesungguhnya kita sedang membangun hubungan yang lebih sehat dengan dunia dan dengan diri sendiri.
Ingat kamu berhak menolah, hargai rasa lelahmu, jaga mentalmu! masak gak capek nuruti kemauan orang terus? merasa tidak nyaman terus? merasa tidak enakan terus? please itu sangat melelahkan! menolak bukan berarti kejam, tapi kita memberi batas pada diri sendiri.
2. Merawat Kesehatan Mental melalui Kebiasaan Kecil
Setelah kita berani mengakui lelah, langkah berikutnya dalam menjaga kesehatan mental adalah merawatnya secara perlahan dan konsisten. Banyak orang mengira bahwa kesehatan mental hanya bisa dijaga dengan hal-hal besar seperti liburan mahal atau perubahan hidup drastis. Padahal, sering kali yang paling berdampak justru kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.
Dalam hidup yang penuh dengan tekanan dan tuntutan ini, memberi waktu untuk mengistirahatkan mental itu sangat penting. Ini bisa sesederhana duduk diam beberapa menit tanpa handphone, menarik napas panjang, atau menikmati secangkir kopi di sore hari tanpa tergesa-gesa. Momen-momen kecil seperti ini membantu pikiran kita kembali tenang dan memberi jeda dari kebisingan dunia.
Atau jika kalian suka mancing seperti saya, bawalah mancing kawan dengan ditemani secangkir kopi, nikmati suasana, dan setiap strek yang kalian lakukan akan semakin mengurangi rasa lelah kalian, wah itu sangat mampu mengisi penuh baterai tubuhmu. (jika kamu juga suka mancing komen di kolom komentar yaa!)
Menjaga kesehatan mental juga erat kaitannya dengan bagaimana kita berbicara pada diri sendiri. Banyak dari kita menjadi kritikus paling kejam bagi diri sendiri. Kita mudah menyalahkan diri saat gagal, membandingkan hidup dengan orang lain, dan merasa tidak pernah cukup baik.
Mengubah dialog batin menjadi lebih ramah adalah bagian penting dari perawatan kesehatan mental. Kita belajar mengganti kalimat “aku tidak berguna” menjadi “aku sedang belajar dan berproses”. Katakan juga pada diri sendiri “kita nggak gagal, semua ada waktunya”.
Selain itu, kesehatan mental juga tumbuh subur ketika kita memiliki tempat yang aman untuk berbagi. Tidak harus selalu dengan banyak orang, cukup satu orang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi sudah sangat berarti.
Berbagi cerita, meski sederhana, dapat meringankan beban yang selama ini kita pikul sendirian. Dalam pengalaman pribadi saya, sesungguhnya kita hanya ingin di dengar tanpa dihakimi, meski tanpa solusi, karena didengarkan adalah salah satu bentuk penyembuhan paling sederhana namun mendalam.
Menjaga kesehatan mental juga berarti merawat hubungan dengan diri sendiri, bukan?. Melakukan hal-hal yang kita sukai, meski terlihat sepele, juga dapat menjadi sumber energi baru. Membaca, menulis, berjalan kaki, atau sekadar mendengarkan musik favorit juga bisa menjadi cara kita kembali terhubung dengan diri sendiri.
Aktivitas-aktivitas seperti ini bukanlah pelarian, melainkan pengingat bahwa hidup tidak melulu soal kewajiban.
Penutup
Pada akhirnya, kesehatan mental bukan sesuatu yang bisa dijaga dalam semalam. Ia adalah perjalanan panjang yang penuh, naik dan turun, seperti hidup itu sendiri. Di tengah dunia yang menuntut kita untuk selalu kuat, produktif, dan sempurna, memilih untuk merawat kesehatan mental adalah bentuk keberanian.
Keberanian untuk berhenti sejenak, mendengarkan diri, dan mengakui bahwa kita juga manusia yang bisa lelah dan itu wajar!
Dengan memahami diri sendiri, memberi ruang bagi emosi, dan membangun kebiasaan kecil yang menenangkan, sebenarnya kita sedang menanam fondasi yang kokoh bagi kesehatan mental kita.
Tidak apa-apa jika langkah kita terasa lambat, karena setiap usaha untuk menjaga kesehatan mental adalah bentuk kasih sayang kita terhadap diri sendiri. Dan di tengah hidup yang melelahkan ini, mungkin itulah yang paling kita butuhkan. Selamat mencoba dan sehat-sehatlah kalian!

Comments
Post a Comment
Terimakasih telah singgah di Musafir Lalu.
Tinggalkan jejak pemikiran dan perasaanmu di kolom komentar.