Di Antara Doa Sinta & Luka Rahwana yang Tak Terucap


Ilustrasi Rahwana dengan lukanya yang tak terucap

Tidak semua luka memiliki suara. Ada yang tumbuh diam-diam, berakar di dada, dan hidup lebih lama daripada harapan. Di antara doa Sinta yang terus terucap dengan setia, ada luka Rahwana yang dipendam tanpa keluhan, dan berdirilah sebuah kisah cinta yang tak pernah benar-benar diberi ruang untuk dimengerti.

Sejarah mencatatnya sebagai kejahatan, tetapi cinta jarang tunduk pada cara dunia menilai benar dan salah.

Rahwana mencintai dalam sunyi. Ia tidak pernah menuntut Sinta untuk berhenti berdoa, tidak pula memaksa hatinya berpaling. Ia hanya menunggu, dengan kesabaran yang menyiksa seorang raja, menanggung luka yang tak bisa ia ucapkan kepada siapa pun.

Dalam diam itulah, cinta Rahwana tumbuh megah, tidak sebagai pemenang, melainkan sebagai tragedi yang memilih bertahan hingga akhir.

Di sanalah kisah ini bermula, bukan dari penculikan semata, melainkan dari jarak yang tak pernah bisa dijembatani antara doa dan cinta yang tak pernah diminta.

Kemegahan Cinta Rahwana

Rahwana bukan sekadar raja Alengka. Ia adalah simbol kekuatan, kecerdasan, dan kejayaan. Sepuluh kepalanya bukan tanda kebuasan semata, melainkan lambang pengetahuan, penguasaan sastra, musik, dan kitab-kitab suci.

Dunia mengenalnya sebagai raksasa, musuh dharma, penjahat besar dalam kisah Ramayana. Namun dunia jarang bertanya, bagaimana jika di balik mahkota emas dan pedang berdarah itu, bersemayam hati yang sungguh-sungguh mencinta?

Ketika Rahwana pertama kali melihat Sinta, ia tidak sekadar melihat kecantikan. Melainkan melihat keteguhan. Ia melihat cahaya yang tidak redup meski dunia mengujinya. Sinta adalah doa yang berjalan, ketenangan yang tak tergoyahkan. Bagi Rahwana, Sinta bukan objek untuk ditaklukkan, melainkan keagungan yang ingin ia miliki, bukan dengan tangan, tetapi dengan pengakuan.

Ia menculik Sinta, benar. Dosa itu tidak bisa disangkal. Namun di sanalah ironi cinta Rahwana bermula. Ia membawa Sinta ke Alengka, ke taman Asoka yang sunyi dan indah, lalu meletakkannya di sana seperti seseorang menaruh bunga langka di tempat paling aman yang ia miliki.

Ia datang, berbicara, memohon dan merayu. Ia mengancam dengan kata-kata, bukan dengan sentuhan. Berbulan-bulan berlalu, dan Rahwana tetap Rahwana yang sama, raja yang bisa memiliki segalanya, kecuali hati perempuan yang ia cintai itu.

Jika cintanya hanya nafsu, maka Sinta telah hancur pada hari pertama. Namun Rahwana memilih menunggu. Menunggu adalah bentuk cinta paling menyakitkan bagi seseorang yang terbiasa dituruti dunia.

Ia menahan diri, menahan amarah, menahan kehendak. Ia tahu, menyentuh Sinta tanpa kerelaan akan mengubah cinta menjadi kehinaan, bahkan di matanya sendiri.

Di malam-malam sepi di Alengka, ketika doa-doa Sinta terbang menembus langit, Rahwana terjaga dengan luka yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun. Ia mendengar nama Rama disebut dalam bisikan angin, dalam isak yang tertahan. Ia tahu ia bukan yang dipilih. Namun cinta tidak selalu lahir dari pilihan. Kadang ia muncul sebagai ujian bagi ego paling besar.

Wibisana, adiknya, datang membawa nasihat. Kembalikan Sinta!, katanya. Selamatkan Alengka. Selamatkan dirimu. Namun Rahwana menolak, bukan karena kesombongan semata, melainkan karena mengembalikan Sinta berarti mengakui kekalahan sebelum perang dimulai.

Bagi Rahwana, kehilangan Sinta bukan hanya kehilangan cinta, tetapi kehilangan makna hidup yang selama ini ia bangun dengan kekuasaan.

Ia memilih jatuh bersama cintanya.

Di medan perang, Rahwana bukan raja yang mabuk darah. Ia adalah lelaki yang sadar bahwa setiap langkahnya mendekatkan diri pada akhir. Satu per satu saudaranya gugur. Alengka terbakar. Dunia yang ia bangun runtuh. Namun tak sekali pun ia mengutuk Sinta.

Tak pernah ia menyalahkan perempuan yang mencintai orang lain. Luka Rahwana adalah luka yang sunyi, luka yang tidak menuntut balasan.

Sinta tetap setia pada Rama. Doanya tidak pernah berubah arah. Dalam kesetiaan itu, Sinta adalah benar. Namun kebenaran tidak selalu menghapus tragedi. Doa Sinta adalah cahaya bagi Rama, tetapi juga pisau halus yang terus mengiris Rahwana tanpa suara.

Ketika panah Rama akhirnya menembus tubuh Rahwana, dunia bersorak atas kemenangan dharma. Namun di detik-detik terakhirnya, Rahwana bukan raksasa. Ia hanyalah lelaki yang mencintai terlalu dalam dan memilih jalan yang salah.

Dalam napas terakhirnya, tidak ada kebencian. Yang ada hanyalah kesadaran pahit, bahwa cinta sebesar apa pun tidak bisa memaksa takdir berpihak.

Sejarah akan terus menyebut Rahwana sebagai penjahat. Anak-anak akan diajarkan untuk membencinya. Namun cinta tidak mengenal hitam dan putih. Cinta hidup di wilayah abu-abu, tempat kesalahan dan ketulusan bisa berdiri berdampingan.

Rahwana mencintai Sinta dengan cara yang tidak benar, tetapi bukan dengan hati yang palsu. Ia gagal bukan karena cintanya kecil, melainkan karena cintanya melawan dharma, melawan kehendak orang yang ia cintai. Di sanalah tragedinya menjadi abadi.

Di antara doa Sinta yang suci dan luka Rahwana yang tak terucap, kisah ini terus hidup sebagai pengingat, bahwa cinta yang megah pun bisa menjadi dosa, dan ketulusan tidak selalu berakhir bahagia.

Dan mungkin, di balik segala kehancurannya, Rahwana tetap layak dikenang bukan hanya sebagai raja yang jatuh, tetapi sebagai pecinta yang berani mencintai sampai hancur, tanpa pernah merusak apa yang ia cintai.

Itulah kemegahan cinta Rahwana.

Tulus, keliru, dan sepenuhnya manusia.

Baca juga: Qais dan Laila, Ketika Cinta Harus Kalah dan Mengalah

Comments

  1. Mengapa hidup sedemikian itu. Cinta tumbuh tidak untuk dimiliki

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya, karena terkadang cinta tak bisa dielakkan pada siapa akan menuju

      Delete
  2. Bukti cinta terbaik Rahwana adalah kesetiaan.... Tak peduli berapa lama menunggu dan menahan segala hawa nafsu... Itu adalah rasa cinta no 1

    ReplyDelete

Post a Comment

Terimakasih telah singgah di Musafir Lalu.
Tinggalkan jejak pemikiran dan perasaanmu di kolom komentar.